みんなの日本語
KELAS
BAHASA JEPANG
LAMPUNG
LAMPUNG
Saat
matahari mulai menuruni ke arah 45 derajat selepas ashar suara
percakapan bahasa jepang terdengar dari dalam ruangan
berukuran
5x5 meter telah riuh oleh belasan mahasiswa
yang
sibuk menghapal buku Minanonihonggo
maupun
yang sedang berlatih percakapan.
Dr.
Hj. Bainah Sari Dewi, S.Hut, M.P. merupakan salah satu Doctor
of Philosophy in Tokyo University of Agriculture and Technology
di Universitas Lampung. Dewi panggilan akrabnya berhasil
menyelesaikan study doktornya
di jurusan wild life management di University of Agriculture and
Technology Jepang
atas beasiswa Monbukagakusho tahun 2005-2009. Saat ini Dewi tengah
sibuk sebagai kepala jurusan kehutanan di Fakultas Pertanian
Universitas Lampung dan membuka kelas bahasa Jepang gratis untuk
mahasiswa nya di daerah BUkit Kemiling Permai Blok S.
Sensei
Dewi membuka kelas jepang di kediaman nya dengan alokasi waktu pada
hari selasa dan hari kamis mulai pukul 16.00-18.30 dan tanpa biaya
registrasi apapun.
....................
Sensei
Dewi Menamatkan Sekolah Menengah Umum (SMU) di SMAN 1 Kalianda
Lampung Selatan. Setelah lulus SMU, Dewi menyelesaikan strata satu
dan strata dua di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta pada tahun 1998 dan 2001. Selama empat tahun di Indonesia,
Dewi menjadi staf pengajar pada Jurusan Manajemen Hutan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung, serta staff guru di Sekolah
Pondok daerah nya .Kompetensi inti adalah pada bidang wild life
management, Orangutan research, Bear as seed disperser, wild life
education for elementary, junior high and senior high school.
Setelah
empat tahun mengajar, Dewi terbang ke Jepang untuk mengambil gelar
doktornya. Dewi aktif sebagai penulis, dimana tulisan pertamanya
tentang Perjalanan Haji Sewaktu Muda, Catatan Harian Seorang
Mahasiswi telah diterbitkan pada Juli 2006. Tulisannya berupa
scientific paper, artikel, telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah,
majalah, koran, bertaraf nasional dan mulai berusaha bertaraf
internasional. Beliau sangat hoby menulis dan meneliti mengenai
berbagai riset dalam kehutanan
Putri
ke tujuh dari sepuluh bersaudara Bapak Baharuddin dan Ibu Sunarya ini
berpengalaman sebagai lecturer di bidang persatwaliaran. Selain tema
itu, Dewi juga memilki minat menulis dalam tema yang berhubungan
dengan motivation, leadership dan keorganisasian. Istri dari Mohamad
Dwi Wicaksono, S.Hut dan ibu dari Safira Cahya Fadhilla (15) dan
Sakura cahya quranidzikri (1,5) serta putri angkatnya .Selama
pendidikan di Jepang aktif dalam berbagai organisasi pelajar dan
kemahasiswaan (Humas PPI Jepang 2005-2007), Indonesia Agriculture
Scientific Association (Kepala Bidang Kehutanan, 2005-2007), anggota
dari Institute Science and Technology Studies (ISTECS), Bendahara
sekaligus reseacher pada Indonesia Rural Development Institute Japan
(2006-2008) dan masih banyak lagi.
Dr.
Hj. Bainah Sari Dewi, S.Hut, M.P.
Sensei
Dewi hidup dari keluarga sederhana. Sensei Dewi dididik dengan penuh
kemandirian. Sejak ayahnya meninggal dewi mulai mencari tambahan
biaya hidupnya di yogyakarta dengan menjadi Telecommunication
Operator UGM Yogyakarta tahun 1992. Kemudian aktif menjadi penyiar
di Rasia Lima AM Radio Yogyakarta tahun 1993. Mencari beasiswa dari
banyak jalur dan menabung untuk impian terbesar nya naik haji ketika
usianya masih muda. Berkat kegigihannya tersebut, dewi berhasil naik
haji pada usianya yang ke 22 tahun.
Sensei
membuka kelas jepang sejak september 2009, saat ini mahasiswa yang
mengikuti kelas jepang sudah mencapai jumlah 140 an mahasiswa dari
berbagai jurusan di Unila bahkan ada yang dari luar Unila seperti
Polinela, Darmajaya dan Teknokrat, namun ibarat organisasi tidak
semuanya aktif jadi hanya kira 20an yang secara kontinyu, karena
memang banyak kesibukan atau keperluan lainya, sehingga dimaklumi
oleh Sensei Dewi. Karena tidak ada unsur paksaan dan sehinnga lebih
enjoy menyenangkan.
Awalnya,
Sensei Dewi mengirimkan Memorandum of Understanding (MoU) Ke
Universitas Tokyo dengan Unila tahun 2008-2013. Salah satunya berisi
Pertukaran mahasiswa (student Exchange). Pada awal tahun 2010, Kelas
Bahasa Jepang pernah mengirim 30 mahasiswanya untuk mengikuti tes uji
kemampuan bahasa jepang yang berstandar internasional nihongo
nouryokusiken.
Namu gagal. “di tahun 2011, dua belas mahasiswa mengirim lagi
formulir aplikasi, yang lulus hanya satu orang Eko Prasetyo.” Kata
Sensei Dewi.
Kelas
bahasa jepang menerapkan sistem setoran hapalan per-Bab dan games
hapalan huruf hiragana (tulisan bahasa jepang dan mewakili sebutan
suku kata) dan katakana ( penulisan kata-kata yang berasal dari
serapan bahasa asing). Cara bermain kartu ini menarik. Satu orang
bertugas sebagai pengacak kartu, kemudian menyebutkan salah satu
penggalan kata, sedangkan peserta bermain melihat di hamparan kartu
tulisan bahasa jepang, memilih kartu yang benar dan bebas dari
hukuman. Sedangkan yang salah menunjuk kartu, akan mendapatkan poin.
Poin-poin tersebut dikumpulkan. Pemilik koin terbanyak akan mendapat
hukuman. ”Disela-sela waktu belajar, bisa bermain kartu namanya
kaado
asobimasou. Yang
hapal huruf hiragana pasti menang dan bebas dari hukuman, hukumannya
bervariasi, biasanya bagi pemilik poin terbanyak akan makan
menggunakan sumpit atau hashi,”
Ujar wanita yang sudah bergelar haji sejak usia nya baru beranjak 22
tahun ini.
Sensei
Dewi mengatakan setalah sholat magrib biasanya siswa kelas Jepang
makan bersama-sama bergaya seperti di negeri Sakura. “supaya
suasana di jepang bisa tercipta, kita bersama-sama makan menggunakan
mangkuk berisi nasi namanya donburi.
Lauknya diputar kesamping, mengambilnya harus ada aturan. Tidak boleh
rebutan. Sebenarnya, meletakkan lauk diatas nasi merupakan cara makan
yang tidak tepat. Makan seperti sebenarnya adabnya di anggap tidak
sopan di Jepang. Cara makan donburi disebut juga makanan rakyat.”
Ungkap Dewi.
Berkat
kegigihannya, seorang mahasiswa kelas jepang yang didirikannya Eko
Prasetyo (Kehutanan’08) berhasil lolos dalam seleksi pertukaran
pelajar atas beasiswa Monbusho
“Eko
berangkat bulan oktober 2011”. di sana Eko Prasetyo menempuh
pendidikan di salah satu universitaas terkemuka di perfektur jepang
yang bernama Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT)
selama kurang lebih 1 tahun dengan program exchange
students.
Selama
disana Eko Prasetyo memperoleh banyak sekali pengalaman baik dari
pelajaran, budaya, ekonomi, sosial dan cara belajar bahasa jepang
yang baik, sekembalinya dari jepang Eko Senpai pada bulan agustus
2012 dia kembali mengisi jam belajar di Minna no Nihongo (みんの日本語)
lampung dengan penuh perhatian terhadap junior yang baru masuk,
termasuk huruf kanji hiragana, katakana, dan grammar,
dan
saat ini Sensei Dewi tidak mengajarkan secara langsung lagi karena
sudah terbantu oleh para senior di kelas jepang, sehingga beliau
hanya mengawasi secara langsung namun apabila ada kendala, sensei tak
segan-segan untuk membantu para muridnya yang belajar, hingga saat
ini sudah banyak yang berhasil beliau berangkatkan ke jepang yaitu
dengan waktu belajar disana sebagai berikut:
- Eko Prasetyo 2011-2012
- Utama Dyan Shandy 2012-2013
- Leonina Deltania 2012-2013
- Desis Kurniyati 2013-2014 sekarang ini .... ^^
Kemudian
pada Festival Bunkasai di Universitas teknokrat di Bandar lampung
Kelas jepang ikut meramaikan dengan menampilakan tarian budaya jepang
yaitu Hanagasa Odori dan juga di bantu oleh sahabat di kelas jepang
kita yaitu , Misato
Harasawa
dan Nagisa
Kusano,
mereka adalah mahasiswa dari pertukaran pelajar dari Tokyo University
of Foreign Studies dan Kagoshima University, mereka berdua datang
pada 2012 agustus dan tinggal di Universitas Lampung hingga Agustus
2013, berikut ini adalah picture nya Minna no Nihongo (みんの日本語)
ketika mengikuti bunkasai
di
bulan maret 2013 di Universitas Teknokrat:
Kami
besyukur saat ini kelas jepang sudah berhasil mengirimkan beberapa
murid nya ke jepang untuk belajar, tetapi menurut Sensei Dewi hal
yang terpenting harus diingat adalah ilmu dan rasa
kebersamaan
dalam belajar dan juga istiqomah bagi para pelajar sehingga setiap
ilmu yang didapatkan meski sedikit dapat berguna bagi semua orang,
ujar Sensei Dewi”, di sela-sela saat kelas sedang belajar, beliau
juga merupakan inspirasi pada muridnya karena memang sensei kadang
bisa sebagai motivator, sensei, dan juga sahabat dan mampu
berkolaborasi dalam keseharianya. Dan tahun ini kelas jepang kembali
kedatangan mahasiswa dari jepang lagi setelah Misato dan Nagisa yang
telah kembali menyelesaikan masa studinya di negeri sakura, namun
lain halnya dengan Nagisa dia masih melanjutkan studi bahasa dan
ekonomi nya di Universitas Indonesia untuk beberapa tahun kedepan...
hmm semoga mereka lancar dan sukses :) ..,
Dan
kini
di bulan november kembali diisi oleh Arana Ogawa dan Yuzu Okubo
mereka mengikuti program pertukaran pelajar dari pemerintah dan juga
beasiswa hehe.., bisa dikatakan mereka juga bisa sebagai senpai kami
dalam mengajarkan bahasa jepang dan juga native
speaker bahasa
jepang kata salah satu anggota ''.
Dan
semoga semuanya berhasil menempuh cita2 untuk di masa depan tidak
harus mesti di jepang apapun usaha kalian, jika diiringi semangat dan
do'a bukan tidak mungkin akan berhasil cepat atau lambat,,
みんな
がんばりましょう mari
semangat !
Terima kasih (arigatou gozaimasu ) kepada narasumber:
Penulis
sebagai murid di kelas jepang MNN











